Saturday, September 20, 2014

Pertemuan III Filsafat

HI BLOGGER!

Kemarin saya sangat capek dan tidak sempat untuk menulis di blog, jadi mohon maaf karena saya baru bisa menulis lagi hari ini. Kali ini saya akan membuat postingan di blog saya menjadi sesuatu yang menarik, tidak membosankan seperti postingan yang sebelumnya agar lebih enak untuk dibaca dan mudah untuk dimengerti.  
Pada pertemuan yang ke 3 filsafat pada hari Kamis, 18 September 2014, saya mendapatkan ilmu baru mengenai Epistemologi dan Kebenaran. Kata "Epistemologi" begitu asing di telinga saya, jadi saya sangat bersemangat saat dosen menjelaskan tentang epistemologi.

Apa itu Epistemologi?

Epistemologi adalah kata yang berasal dari bahasa Yunani, "episteme" yang berarti pengetahuan dan "logos" yang berarti ilmu. Epistemologi merupakan cabang filsafat yang berkaitan dengan sifat, asal, karakter dan jenis pengetahuan. Dalam arti sederhana, epistemologi adalah teori tentang pengetahuan/theory of knowledge. Epistemologi atau Teori Pengetahuan membahas tentang asal mula pengetahuan, bagaimana terjadinya pengetahuan, serta pertanggung jawaban atas pengetahuan yang dimiliki oleh manusia. Manusia memperoleh pengetahuan melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode, seperti metode induktif, metode deduktif, metode dialektis, metode positivisme, dan metode kontemplatis.

Sifat epistemologi dibagi menjadi 3, yaitu:

  1. Secara Kritis: mempertanyakan/menguji cara kerja, pendekatan, dan kesimpulan yang dapat ditarik dari kegiatan kognitif manusia.
  2. Secara Normatif: menentukan tolok ukur atau norma penalaran tentang kebenaran pengetahuan.
  3. Secara Evaluatif: menilai apakah suatu keyakinan atau pendapat dapat dipertanggung jawabkan dan dijamin kebenarannya secara logis dan akurat.
Seorang manusia dapat memperoleh dasar dan sumber pengetahuan yang berasal dari:
  •    Ingatan (memory)
  •    Pengalaman manusia
  •    Pikiran dan penalaran
  •    Minat dan rasa ingin tahu
  •    Logika
  •    Bahasa
  •    Kebutuhan hidup manusia


Selain itu, pengetahuan juga dapat kita peroleh melalui beberapa metode, yaitu:

   a) Empirisme
Empirisme merupakan suatu aliran dalam filsafat yang menyatakan bahwa semua pengetahuan itu berasal dari pengalaman manusia. Empirisme meyakini bahwa pengalaman merupakan satu-satunya sumber pengetahuan. Jadi,  pengetahuan tidak diperoleh dari akal, melainkan alat panca indera manusia seperti hidung, mata, telinga, dll.

Salah satu tokoh empirisme yaitu John Locke (1632-1704). John Locke berpendapat bahwa segala pengetahuan berasal dari pengalaman dan bukan berasal dari akal (otak). Ia pun mengatakan bahwa otak manusia saat lahir merupakan kertas putih yang kosong (tabula rasa) dan kertas tersebut terisi saat manusia memiliki pengalaman.    

    b) Rasionalisme
Rasionalisme merupakan suatu aliran dalam filsafat yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari rasio (akal). Di dalam rasio terdapat ide-ide yang menjadi sumber pengetahuan. Para penganut rasionalisme meyakini bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide kita. Jadi, kebenaran hanya ada dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dari akal budi manusia saja.



Salah satu tokoh Rasionalisme adalah Rene Descartes (1596-1650). Ia berpendapat bahwa ide adalah bawaan yang sudah ada di dalam jiwa sebagai kebenaran yang tidak bisa diragukan lagi.

   c) Fenomenalisme
Fenomenalisme merupakan suatu aliran dalam filsafat yang menyatakan bahwa fenomenalisme (gejala) adalah sumber pengetahuan dan kebenaran. Sehingga, pengetahuan manusia hanya terbatas pada gejala-gejala yang nampak, yang dapat amati oleh indera serta ditambahkan sebuah kesadaran.


Salah satu tokoh fenomenalisme adalah Immanuel Kant (1724-1804). Menurutnya, antara empirisme dan rasionalisme tidak ada yang salah. Ia berpendapat bahwa kedua hal tersebut sama-sama berperan dan tidak mungkin dapat bekerja tanpa satu dengan yang lain.

Struktur ilmu pengetahuan itu mempunyai 2 kutub, yaitu:
  • Subjek: berperan sebagai yang mengetahui
  • Objek: berperan sebagai yang diketahui
Antara Subjek dan Objek memiliki keterkaitan untuk menghasilkan pengetahuan.

Sekarang, saya akan membahas mengenai Teori Kebenaran. Teori Kebenaran dibagi menjadi beberapa bagian, antara lain:
1. Teori Kebenaran Korespondensi
Kebenaran akan terjadi apabila pernyataan subjek sesuai dengan kenyataan yang ada.
Contoh: pernyataan para ahli sejarah yang menemukan berbagai fosil jaman purba didukung dengan data dan bukti yang kuat.
2. Teori Kebenaran Koherensi
Kebenaran akan terjadi apabila ada kesesuaian pendapat beberapa subjek terhadap objek.
Contoh: Beberapa orang hakim yakin bahwa tersangka pencuri motor itu bersalah dan akan dikenai hukuman sesuai dengan undang-undang yang berlaku.
3. Teori Kebenaran Pragmatik
Kebenaran akan terjadi apabila suatu hal memiliki nilai kegunaan.
Contoh: Buku sangat berguna untuk menambah ilmu
4. Teori Kebenaran Konsensus
Kebenaran akan terjadi apabila ada kesepakatan yang disertai dengan alasan tertentu
Contoh: Para guru dan kepala sekolah sepakat untuk memberikan keringanan biaya sekolah terhadap salah satu siswa karena siswa tersebut tidak mampu membayar biaya sekolah.
5. Teori Kebenaran Semantik
Kebenaran akan terjadi apabila seseorang mengetahui dengan tepat tentang arti dari suatu kata
Contoh: Seorang murid dapat memahami dengan baik pelajaran matematika mengenai logaritma.

     Sekarang saya akan menjelaskan mengenai Kebenaran.

Kita sering mendengar atau bahkan menggunakan kata kebenaran dalam kehidupan sehari-hari. Sebenarnya apa sih yang dimaksud dari kebenaran?

Kebenaran adalah nilai utama di dalam kehidupan manusia. Untuk menilai sifat atau makna dari suatu pernyataan digunakan benar-salah. Dalam kehidupan sehari-hari, ada orang yang sering mengatakan “saya rela mati demi membela kebenaran”. Hal ini menunjukkan bahwa kebenaran sangatlah penting dan berharga bagi manusia.

Secara umum, kebenaran dimengerti sebagai kesesuaian antara apa yang dipikirkan atau dinyatakan dengan kenyataan yang sesungguhnya. Bahasa Yunani dari kebenaran adalah aletheia (άληδεία)

Menurut Plato, pengertian dari aletheia secara etimologi berarti “ketaktersembunyian adanya” atau “ketersingkapan adanya”. Jadi, selama kita masih terikat dengan “yang ada” dan tidak masuk pada “adanya dari yang ada”, kita belum bertemu dengan  kebenaran, karena “adanya” itu masih tersembunyi.

Menurut kaum Positivisme Logis, kebenaran dibagi menjadi dua, diantaranya:
  •     Kebenaran Faktual adalah kebenaran tentang ada tidaknya secara faktual di dunia nyata sebagaimana dialami manusia. Pada prinsipnya kebenaran ini dapat diuji kebenarannya berdasarkan pengamatan inderawi.
  •     Kebenaran Nalar adalah kebenaran yang bersifat tautologis (pengulangan gagasan) dan tidak menambah pengetahuan baru mengenai dunia, tetapi dapat digunakan sebagai sarana membantu memperoleh pengetahuan yang benar atau dapat membantu memperoleh kebenaran faktual.
Sedangkan menurut Thomas Aquinas (1225-1274), kebenaran dibagi menjadi 2 yaitu:
  • Kebenaran Ontologis adalah kebenaran yang terdapat di dalam kenyataan, baik spiritual maupun material, yang meskipun ada kemungkinan untuk diketahui
  •  Kebenaran Logis adalah kebenaran yang terdapat dalam akal budi (si penahu) dan kenyataan.
Kedudukan Kebenaran
Kedududukan kebenaran dalam tradisi Aristotelian pertama adalah kebenaran berada pada subjek penahu , bagaimana subjek mengetahui di dalam pikirannya kemudian diungkapkan dengan bahasa baik lisan maupun tulisan, dari kepercayaan-kepercayaan yang diyakininya. Tetapi karena kebenaran merupakan persesuaian atau penyamaan akal budi dengan kenyataan (idelitas-realitas), kebenaran juga terdapat pada objek atau kenyataan yang diketahui. Kebenaran ini terdapat pada relasi antara subjek penahu dan objek yang diketahui.

Kesahihan dan Kekeliruan
Apa itu kesahihan? Apa itu kekeliruan? Apakah kesahihan dan kekeliruan adalah dua hal yang mempunyai pengertian yang sama? Untuk menemukan jawabannya, mari kita baca tulisan di bawah ini
  •     Kesahihan berarti dapat di percaya atau valid, sesuai dengan fungsi (kenyataan)
  •     Kekeliruan berarti menerima sebagai benar apa yang dinyatakan salah atau menyangkal apa yang senyatanya benar. Kesalahan adalah hasil dari tindakan kekeliruan. Kekeliruan dapat terjadi karena banyak faktor yang memengaruhi seperti:
  • Sikap terburu-buru atau kurang perhatian pada saat melakukan suatu kegiatan
  • Terlalu gegabah dan sikap takut salah yang keterlaluan dalam mengambil keputusan
  • Kerancuan dan kebingungan akibat dari emosi, perasaan yang mengganggu konsentrasi
  • Prasangka dan dugaan baik dari individu maupun sosial
  • Kekeliruan penalaran dan tidak mematuhi aturan-aturan logika
     Bila ada hal-hal yang ingin ditanyakan atau ingin memberikan penambahan, silahkan tulis di kolom komentar. Terima kasih.


Have a lovely day!


"Positive thinking will let you do everything better than negative thinking will" ~ Zig Ziglar

3 comments: