Friday, September 26, 2014

Pertemuan V Filsafat

HI BLOGGER!

Hari Senin, 22 September 2014 saya mempelajari tentang Silogisme, Kesesatan Pemikiran (Fallacia). Pertama, saya akan menjelaskan tentang Silogisme terlebih dahulu.

Apakah yang dimaksud dengan Silogisme?

Silogisme adalah suatu simpulan dari 2 premis yang kemudian disimpulkan menjadi suatu putusan yang baru. Prinsipnya adalah bila premis benar, maka simpulannya benar.

Terdapat 2 macam silogisme, yaitu:
  • Silogisme Kategoris: silogisme yang premis dan simpulannya adalah putusan kategoris. Contoh:
  • M - P Perbuatan jahat itu haram
  • S - M Mencuri adalah perbuatan jahat
  • S - P Maka, mencuri itu haram
  • Bila penalaran baik, maka silogisme memperlihatkan alasan dan dasarnya
Silogisme Kategoris dibagi menjadi 2, yaitu:

a. Silogisme Kategoris Tunggal: mempunyai 2 premis, terdiri atas 3 term, S, P, M.
  • Bentuk - Bentuk Silogisme Kategori Tunggal: 
  • M adalah S dalam premis mayor dan P dalam premis minor. Aturan: premis minor harus sebagai penegasan, sedang premis mayor bersifat umum. Contoh:
  • M - P Setiap manusia membutuhkan makan (mayor)
  • S - M Pengemis adalah manusia (minor)
  • S - P Jadi, pengemis butuh makan (simpulan)
  • M jadi P dalam premis mayor dan minor. Aturan: salah satu premis harus negatif. Premis mayor bersifat umum. Contoh:
  • P - M Perempuan harus memakai rok
  • S - M Andi tidak suka memakai rok
  • S - P Jadi, Andi bukan perempuan
  • M menjadi S dalam premis mayor dan minor. Aturan: premis minor harus berupa penegasan dan simpulannya bersifat partikular (sebagian). Contoh:
  • M - P Mahasiswa itu orang dengan tugas belajar
  • M - S Ada mahasiswa yang orang bodoh
  • S - P Jadi, sebagian orang bodoh itu orang dengan tugas belajar
  • M adalah P dalam premis mayor dan S dalam premis minor. Aturan: premis minor harus berupa penegasan, sedangkan simpulan bersifat partikular. Contoh:
  • P - M Influenza itu penyakit (mayor)
  • M - S Semua penyakit mengganggu kesehatan (minor)
  • Jadi, sebagian yang mengganggu kesehatan itu influenza (simpulan)
b. Silogisme Kategoris Majemuk: bentuk silogisme yang premis-premisnya sangat lengkap , lebih dari 3 premis. Jenis-jenisnya adalah :
  • Epicherema: silogisme yang salah satu/kedua premisnya disertai alasan. Contoh: 
  • Semua arloji bermutu adalah arloji mahal, karena sulit pembuatannya
  • Arloji guess itu adalah arloji baik, karena selalu tepat dan awet
  • Jadi, arloji guess adalah arloji mahal
  • Enthymema: silogisme yang dalam penalarannya tidak mengemukakan secara eksplisit. Contoh: jiwa manusia adalah rohani. Jadi, tidak akan mati (versi singkat)
  • Yang rohani itu tidak akan mati
  • Jiwa manusia adalah rohani
  • Maka, jiwa manusia tidak akan dapat mati (versi lengkap)
  • Polisilogisme: deretan silogisme dimana simpulan silogisme yang satu menjadi premis untuk silogisme yang lainnya. Contoh:
  • Seseorang yang mendapat nilai jelek itu, merasa tidak pintar
  • Andi adalah anak yang mendapat nilai jelek
  • Jadi, Andi merasa tidak pintar
  • Sorites: silogisme yang premisnya lebih dari 2. Putusan-putusan itu dihubungkan satu sama lain sedemikian, sehingga predikat dari putusan yang satu jadi subjek putusan berikutnya. Contoh:
  • Orang yang menginginkan seribu satu barang, banyak sekali kebutuhannya
  • Orang yang banyak sekali kebutuhannya, tidak tenteram hatinya
  • Jadi, orang yang tidak mengendalikan keinginannya, tidak tenteram hatinya
Hukum Silogisme Kategoris
  1. Silogisme tidak boleh mengandung lebih dari 3 term (S, M, P)
  2. M tidak boleh masuk ke dalam kesimpulan, karena M berfungsi mengadakan perbandingan dengan term-term
  3. Term S dan P dalam simpulan tidak boleh luas dari premis-premisnya

Nah, selanjutnya kita akan beralih ke materi yang berikutnya, yaitu mengenai Kesesatan (Fallacia)

Fallacia adalah kesalahan pemikiran dalam logika, bukan kesalahan fakta, tetapi kesalahan atas kesimpulan karena penalaran yang tidak sehat
Contoh: Presiden Amerika Serikat Barack Obama lahir di Indonesia

Kesesatan itu dibagi 2, yaitu:
  1. Kesesatan Formal: pelanggaran terhadap kaidah logika. Misalnya, Semua penodong berwajah seram. Semua pengemis berwajah seram. Jadi, semua pengemis adalah penodong. Hal ini merupakan hal yang sesat.
  2. Kesesatan Informal: menyangkut kesesatan dalam bahasa. Misalnya, kesesatan diksi. Contoh lain adalah
  • Penempatan kata depan yang keliru: Antara hewan dan manusia memiliki perbedaan
  • Mengacau posisi subjek atau predikat: Karena tidak mengerjakan pr, guru menghukum anak itu
  • Ungkapan yang keliru: Pencuri kawakan itu berhasil diringkus polisi minggu lalu
  • Amfiboli: sesat karena struktur kalimat bercabang. Mis: Anto anak Bu Saminah yang hilang ingatan lari dari rumah
  • Kesesatan aksen/prosodi: sesat karena penekanan yang salah dalam pembicaraan. Mis: ada aturan "Anda tidak boleh ganggu anak tetangga". Nah, Pak Budi bukan tetangga anda. Maka anda boleh mengganggu anaknya.
  • Kesesatan bentuk pembicaraan: sesat karena orang menyimpulkan kesamaan konstruksi juga berlaku bagi yang lain. Mis: berpakaian artinya memakai pakaian. Bersepeda artinya memakai sepeda.
  • Kesesatan aksiden: yang aksidental dikacaukan dengan hal yang hakiki. Mis: sawo matang adalah warna kulit
  • Kesesatan karena alasan yang salah: konklusi ditarik dari premis yan tak relevan
Kesesatan Presumsi
  1. Generalisasi tergesa-gesa: orang Padang pandai memasak
  2. Non Sequitur (belum tentu): memang saya tidak lulus karena beberapa hari yang lalu saya berdebat dengan dosen tersebut
  3. Analogi palsu: membuat isteri bahagia seperti membuat hewan piaraan bahagia dengan cara membelai kepalanya
  4. Penalaran melingkar (petitio principii): manusia merdeka karena ia bertanggungjawab karena ia merdeka
  5. Deduksi cacat: barangsiapa sering memberi sumbangan, maka dia pasti orang baik. Andi pasti orang baik.
  6. Pikiran Simplistis: karena ia tidak beragama, maka ia pasti tidak bermoral
Menghindari Persoalan
  1. Argumentum ad hominem: jangan percaya omongannya karena ia bekas narapidana
  2. Argumentum ad populum: Anda lihat banyak korupsi, maka partai Nasdem adalah partai masa depan kita
  3. Argumentum ad misericordiam: seorang terdakwa meminta keringanan hukuman karena mengaku punya banyak tanggungan
  4. Argumentum ad baculum: karena beda pendapat, suka meneror orang lain
  5. Argumentum ad auctoritatem: mengutip pendapat Freud mengenai psikoanalisa
  6. Argumentum ad ignoratiam: bila tidak bisa dibuktikan bahwa Tuhan itu ada, maka Tuhan tidak ada
  7. Argumen untuk keuntungan seseorang: seorang pengusaha berjanji mau membiayai kuliah, bila mahasiswi mau dijadikan isteri
  8. Non causa pro causa: orang sakit perut setelah menghapus sms berantai, maka dia menganggap itu sebagai penyebabnya
Kesesatan Retoris:
  1. Eufemisme/disfemisme: pembangkang yang dianggap benar disebut reformator. Bila tidak disenangi maka disebut anggota pemberontak
  2. Penjelasan retorik: dia tidak lulus karena tidak teliti mengerjakan soal
  3. Stereotipe: orang Batak suka menyanyi, orang Jawa penyabar
  4. Innuendo: saya tidak mengatakan makanan tidak enak, tapi mau mengatakan lukisan itu bagus
  5. Loading Question: apakah anda masih tetap merokok?
  6. Weaseler: 3 dari 4 dokter menyarankan nahwa minum itu memperlancar pencernaan
  7. Downplay: jangan anggap serius omongannya karena dia hanya buruh bangunan
  8. Hiperbola: membesar-besarkan
  9. Pengandaian: bukti studi menunjukkan
  10. Dilema semu: tamu yang menolak kopi, langsung disuguhi sirup

Sumber: PPT yang diberikan


Have a good day!


Bila ada hal-hal yang ingin ditanyakan atau ingin memberikan penambahan, silahkan tulis di kolom komentar. Terima kasih.


"One way to get the most out of life is to look upon it as an adventure" ~ William Feather

No comments:

Post a Comment